2021 Tahun Terbaik BPK, Ini Alasannya

by Admin 1

JAKARTA, WARTAPEMERIKSA – Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agus Joko Pramono menjelaskan bahwa ini merupakan tahun terbaik BPK. Laporan dan capaian yang ada membuktikan bahwa kerja sama yang telah dilakukan pada periode yang lalu dan saat ini telah membuahkan hasil.

“Kita patut mempertahankan bahkan wajib menyongsong BPK yang lebih baik lagi,” kata dia dalam Raker Pelaksana BPK tahun 2021 yang digelar beberapa waktu lalu.

Dia juga menjelaskan bahwa tema “Bersama Melangkah untuk BPK Tangguh dan Indonesia Maju” mengandung arti bahwa BPK merupakan bagian dari Republik Indonesia. Karenanya, bersama sama harus mencapai tujuan negara yang sudah ditetapkan oleh para pendahulu yang tercantum dalam konstitusi.

Dia juga mengingatkan bahwa raker pelaksana merupakan sarana refleksi dan evaluasi atas pencapaian kinerja yang didapatkan selama ini. Selain itu, sarana untuk memantapkan dan menyepakati rencana kegiatan pemeriksaan dan kelembagaan dalam konteks implementasi Renstra 2020-2024.

“Raker ini juga sebagai sarana memperkuat komitmen, sinergi, kolaborasi, dan kebersamaan untuk menghadapi tahun 2022,” ucap dia.

Satu hal yang menurutnya penting adalah saat ini dunia memasuki era digitalisasi. Mereka yang tidak melakukan digitalisasi maka akan tertinggal.

Alasannya, ujar Agus, seluruh sendi negara dan masyarakat saat ini telah bertransformasi secara digital. “Esensi dari transformasi digital adalah menghilangkan ruang dan waktu. Jadi bila kita bekerja menggunakan laptop namun masih bekerja sekuensial maka belum bertransformasi digital” ucap dia.

Transformasi digital ini yang bisa membuat insan BPK bekerja kapan saja dan di mana saja. Tanpa perlu membedakan ruang dan waktu. Akan tetapi justru yang lebih penting adalah model transformasinya tepat, yaitu mengarah pada e-government dan digital government di Indonesia. “Agar kita tidak kehilangan momentum, dalam raker ini juga perlu dipahami bahwa BPK telah menetapkan enterprise architecture,” tutur dia.

Transformasi digital ini juga mendorong BPK menggunakan big data dan artificial intelligence. AKN II, ucap dia, telah melakukan hal untuk mengumpulkan dan memformulasikan bentuk data yang bisa digunakan untuk pemeriksaan.

“Sebenarnya pemeriksaan itu bentuknya sederhana. Ketika kita menggunakan sembilan metode pemeriksaan, tujuh dari sembilan metode ini bisa menggunakan mesin. Sementara yang tidak bisa adalah metode analisis, seperti interviewing dan analisis personal,” tutur dia.

Agus menjelaskan, strategi renstra 2020-2024 memberikan BPK ruang untuk perubahan secara masif, fleksibel, dan inovatif. “Saat ini Anda tidak perlu lagi berpikir bahwa dokumen juknis dan juklak itu dokumen yang statis atau tidak,” tutur dia.

Sehingga ke depan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan mengikuti enterprise architecture yang dalam prosesnya mengikuti perubahan tanpa perlu menunggu pergantian aturan. Perubahan itu pun tidak boleh dibebankan kepada Direktorat Utama Perencanaan, Evaluasi, dan Pengembangan Pemeriksaan Keuangan Negara (Ditama Revbang).

Alasannya, kata dia, memang yang menginput semuanya adalah Ditama Revbang. Akan tetapi ide dasar perubahan bisa dilakukan oleh pemeriksa atau tiap satuan kerja di BPK. “Karena dalam enterprise architecture semua hal dianggap penting,” ucap dia. Agus pun mengingatkan bahwa saat ini yang perlu dianggap penting adalah setiap insan BPK mampu memahami enterprise architecture karena bukan hal yang sederhana.

Melalui raker ini, BPK diminta meningkatkan kapabilitas organisasi pemeriksaan agar lebih modern dan dinamis. Jadi kebutuhan risiko audit harus berbanding lurus dengan apa yang dimampu oleh BPK. “Jangan sampai kita berkutat terhadap apa yang kita inginkan, auditee sudah menyeberang ke ujung dunia. Artinya berbeda apa yang dilihat BPK dengan yang dikerjakan oleh auditee,” ungkap dia.

Agus pun meminta BPK tetap berperan sebagai pusat pengembangan standar. Karena hanya BPK organisasi yang memilki standar pemeriksaan keuangan negara (SPKN). “Jadi tidak perlu susah-susah membuat standar, yang penting aplikatif dan paham, itu sudah cukup,” ucap dia.

You may also like